Mengenal Pap Smear, Fungsi, Proses, serta Efek Sampingnya

Leher rahim adalah salah satu bagian penting di tubuh wanita yang berisiko tinggi terjangkiti oleh sel kanker, yakninya kanker serviks. Kanker satu ini merupakan penyakit mematikan yang kerap menyerang wanita di usia 45 tahun. Deteksi dini merupakan salah satu cara terhindar dari kanker ini, yang bisa dilakukan dengan menjalani rangkaian tes yang disebut pap smear

Apa Itu Pap Smear?

Sebagian dari Anda, khususnya kaum wanita, mungkin belum begitu familiar dengan istilah tes satu ini. Pap smear atau pap test merupakan prosedur di dunia kesehatan, yang dilakukan untuk mencari tahu atau mendeteksi dini keberadaan kanker serviks pada wanita. Prosedur ini bekerja dengan cara mengambil sampel berupa sel yang berada di area bawah atau leher serviks. 

Lalu, kapan sebaiknya prosedur ini dilakukan untuk bisa mengetahui adanya risiko kanker serviks ini? Frekuensi dilakukannya prosedur ini sendiri tergantung pada beberapa faktor, diantaranya adalah umur. Bagi wanita berusia 21 hingga 65 tahun, disarankan untuk menjalani prosedur ini setiap 3 tahun, khususnya jika wanita tersebut menjalani kehidupan seksual yang aktif. 

Fungsi dari Pap Smear

Seperti yang disebutkan sebelumnya, fungsi pap smear adalah untuk mendeteksi sedini mungkin kemungkinan adanya sel kanker di leher rahim wanita. Jika ditemukan sel kanker tersebut, maka treatment untuk perawatannya pun bisa dilakukan lebih cepat, sehingga sel kanker tersebut tak berkembang dan membuatnya jadi lebih parah.

“Karena gejala awal pada umumnya, lesi prakanker belum memberikan gejala. Bila telah menjadi kanker invasif, gejala yang paling umum adalah perdarahan (contact bleeding, perdarahan saat berhubungan intim) dan keputihan. maka sangat penting untuk melakukan deteksi dini, sehingga dapat segera ketahuan” tambah dr. Irma Lidia, tim dokter Lifepack

Jika sekiranya sel kanker belum terbentuk, namun telah terjadi perubahan sel pada leher rahim saat dilakukan prosedur ini, maka pencegahan pun akan bisa dilakukan. Intinya, dengan menjalani prosedur ini akan bisa mencegah tumbuhnya sel kanker, sekaligus untuk menghindari semakin berkembangnya sel kanker tersebut. 

Proses Pap Smear

1. Persiapan

Sebelum menjalani prosedur ini, patut diketahui bahwa ada beberapa hal yang harus dihindari. Terhitung 48 jam jelang prosedur dilakukan, dilarang berhubungan intim atau pun menggunakan lubrikan di bagian intim. Wanita yang akan menjalankan prosedur ini juga dilarang memasukkan apapun ke bagian intimnya, misalnya seperti tampon atau pun sabun pembersih. 

Perlu diketahui juga bahwa pelaksanaan prosedur ini tak boleh dilakukan saat wanita dalam keadaan menstruasi. Pasalnya, kondisi tersebut bisa mempengaruhi keakuratan hasil prosedur yang dilakukan tersebut. Jika semuanya sudah sesuai dengan ketentuan, maka prosedur siap untuk dijalankan. 

2. Proses

Proses pap smear dilakukan selama lebih kurang 10 hingga 20 menit, dengan memasukkan spekulum ke dalam bagian intim wanita. Dengan dimasukkannya spekulum, maka akan melebarkan dinding bagian intim dan memungkinkan dokter untuk melihat kondisi rahim dengan mudah. Perlu diketahui bahwa saat spekulum dimasukkan, akan terasa sensasi tekanan di area pelvis. 

Selanjutnya, dengan menggunakan swab, akan diambil beberapa sel yang berada di leher rahim. Proses pengambilan sel ini sendiri biasanya tak menimbulkan rasa sakit. Sel yang sudah diambil tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah berisikan cairan khusus, untuk kemudian dibawa ke laboratorium untuk diteliti.  

3. Hasil

Hasil dari prosedur ini bisa diketahui dalam beberapa hari. Ada 2 kemungkinan hasilnya, yakni negatif atau normal dan positif atau abnormal. Jika hasilnya negatif, berarti tak ditemukan adanya sel kanker atau pun sel yang berpotensi menjadi kanker di leher rahim. Prosedur selanjutnya bisa disesuaikan dengan frekuensi pemeriksaan yang direkomendasikan. 

Jika sekiranya hasilnya positif, bukan berarti secara otomatis terjangkit kanker serviks. Hasil yang positif ini bisa disebabkan oleh beberapa alasan, seperti adanya peradangan ringan atau perubahan kecil pada sel, HPV, kanker atau prakanker. Tak menutup kemungkinan juga adanya error pada hasil laboratorium atas sampel yang diteliti. 

Bagi wanita dengan hasil positif atas prosedur yang dilakukanya, umumnya akan diminta untuk menjalani prosedur kolposkopi. Kolposkopi dilakukan dengan menggunakan alat khusus yang  disebut kolposkop, untuk memeriksa jaringan pada serviks, vagina, dan vulva. Pengambilan jaringan di area yang diketahui abnormal mungkin dilakukan, untuk kemudian dianalisis kembali. 

Risiko yang Ditimbulkan 

Layaknya prosedur kesehatan lainnya, pelaksanaan prosedur untuk mendeteksi sel kanker serviks ini juga memiliki efek sampingnya tersendiri. Oleh sebab itu, bagi wanita yang ingin menjalani prosedur ini, sebaiknya pahami dulu apa saja risiko pap smear yang mungkin timbul. Prosedur ini sendiri bisa menimbulkan rasa tak nyaman di bagian intim, kram, serta pendarahan ringan atau flek. 

Walaupun ada efek samping pap smear yang timbul, namun durasi berlangsungnya efek samping tersebut tak terbilang lama dan bisa hilang pada hari dilakukannya prosedur. Jika sekiranya efek samping tersebut berlangsung lebih lama dan tak kunjung mereda, maka sangat disarankan untuk berkonsultasi kembali dengan dokter yang melakukan prosedur tersebut. 

Mengingat betapa mematikannya kanker serviks, tentu saja lebih baik mendeteksinya sedini mungkin melalui prosedur pap smear. Prosedur ini direkomendasikan bagi wanita berusia mulai dari 21 hingga 65 tahun, utamanya sekali bagi yang menjalani kehidupan seksual aktif. Harga pap smear ini pun terbilang masih relatif terjangkau, dengan biaya sekitar Rp400.000 saja. 

Ingin berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter mengenai kesehatan? Unduh aplikasi Lifepack. Tebus resep obat, bebas antri. Tersedia melalui Google Play Store maupun App Store. 

Ditulis oleh: Hairun Nisa